Website Resmi IDENTIK | Ikatan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dalam Kurikulum 2013


Hal yang penting lagi dalam kegiatan pembelajaran di kelas-kelas SD, selain penerapan berbagai pendekatan, model, dan metode pembelajaran tersebut, guruharus melatihkan kepada peserta didik berupa kemampuan atau ketrampilan berpikirtingkat tinggi atau Higher Order Thinking (HOT), dengan tujuan meningkatkankemampuan siswa berpikir dan bernalar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lebih rumit dan atau memecahkan suatu kasus atau masalah. Hal ini perlu dilatihkan sejak usia sekolah dasar agar pada saat memasuki jenjang pendidikan berikutnya dan di masa depan mereka tidak asing dan tidak takut jika dihadapkan pada pertanyaan atau permasalahan yang lebih rumit.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi juga melatih menyampaikan gagasan secara argumentatif, logis, dan percaya diri, baik secara tertulis, lisan, dan tindakan.

Disinyalir selama ini peserta didik di SD lebih banyak dilatih pada kemampuan berpikir tingkat rendah atau Lower Order Thinking (LOT), sehingga hanya mampu memecahkan pertanyaan dan atau permasalahan yang relatif sederhana, yang ditandai dengan hanya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan atau soal dalam bentuk objective test (pilihan ganda, menjodohkan, isian singkat) yang alternatif jawabannya hanya satu. Dalam melatihkan kemampuan berpikir tingkat tinggi kepada peserta didik, guru harus kreatif dan mampu membuat pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya variatif atau lebih dari satu jawaban yang benar atau berupa uraian. 
Kata kunci pertanyaan untukmelatih berpikir tingkat tingi antara lain: mengapa?, bagaimana caranya?, berikanalasan!, dengan cara apa?, harus bertindak bagaimana?, seandainya?, dan lain-lain. Berbeda dengan melatihkan berpikir tingkat rendah, guru hanya mengajukanpertanyaan pertanyaan tertutup, seperti sebutkan!, pilih!, tunjukan!, siapa penemunya?, dimana?, dan lain-lain. Melatihkan berpikir tingkat rendah tidak dilarang, dengan syarat kemampuan berpikir tingkat rendah tesebut hanya sebagai dasar atau perantara untuk ditindaklanjuti ke tingkat kemampuan berfikir yang lebih tinggi.
Untuk itu perlu dihindari guru yang cenderung hanya melatihkan berfikir tingkat rendah kepada peserta didik, tanpa ditindaklanjuti untuk merangsang ke arah berpikir tingkat tinggi.
Sumber: Materi Diklat Kurikulum 2013, Kemdikbud.

Ada pertanyaan atau komentar?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: