Website Resmi IDENTIK | Ikatan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan

Penilaian Rapor Sulit, Guru Harus Diberi Pelatihan Khusus


Sistem penilaian rapor pada Kurikulum 2013 (K13) lebih sulit ketimbang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Pasalnya, penilaian lebih banyak bersifat deskriptif dan administratif.

Namun begitu, sistem penilaian K13 lebih baik ketimbang KTSP 2006 yang menonjolkan angka atau kuantitatif. Dalam kaitan ini, para orang tua murid menyarankan guru harus diberi pelatihan khusus dalam penilaian di K13.
Demikian terungkap dari rangkuman pendapat yang berhasil dihimpun Media Indonesia, saat menghubungi sejumlah orang tua murid, Selasa (23/12/2014), mengenai sistem penilaian atau rapor kurikulum.




“Saya melihat rapor anak saya yang sudah mengikuti K13 ada tiga jenis penilaian yakni pengetahuan, ketrampilan, dan sikap spritual serta sosial. Skala penilaian juga berbeda. Bagi anak saya kelas 1 SD harus lebih banyak didampingi dan keterlibatan orang tua dalam belajar,” kata Adi Darmawan yang anaknya bersekolah di SD Negeri Depok, Jawa Barat.
Hemat dia, penggunaan K13 cukup berat pada tema anak kelas 1 SD yang baru mulai belajar membaca begitupun sistem penilaiannya.
“K13 baik saja cuma untuk kelas 1 SD mesti disederhanakan lagi, begitupun sistem penilaiannya guru harus banyak dilatih,” cetusnya. Dia berharap evaluasi yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan sekarang menjadi perbaikan K13.
Ia menyatakan K13 sangat baik diterapkan untuk sekolah dan masyarakat yang sudah modern, tetapi tentu akan sulit bagi sekolah di pedesaan atau pedalaman.
Dian Saraswati yang anaknya bersekolah di SMP Muhammmadiyah di bilangan Tangerang Selatan, berpendapat senada pemerintah harus memberi pelatihan kepada guru-guru tentang penilaian.
“Saya setuju dengan penilaian di K13 yang lebih membutuhkan waktu dan  observasi kepada siswa ketimbang KTSP. Kendati ini menjadi lebih berat bagi guru, sebab setiap siswa harus diketahui masing-masing sikapnya oleh guru. Sebagai orang tua, kami senang dengan penilaian model seperti itu. Artinya, guru dituntut untuk paham apa yang menjadi kebutuhan siswanya di sekolah. Sebab selama ini kebanyakan guru cuma menilai faktor intelektual siswa. Nah, sekarang aspek moral dan perilaku siswa juga dinilai dan itu bagus sekali,” cetusnya.
Dia menyarankan orang tua perlu diberi sosialisasi, bagaimana sistem penilaian baru di sekolah. Sehingga prang tua sepatutnya membantu guru dalam membimbing anak-anaknya, sebab sikap di sekolah kadang berawal dari rumah. Apakah di rumah orang tuanya tidak memberi perhatian, maka di sekolah anak akan mencari perhatian dalam konotasi negatif.
“Sistem menilai tergantung gurunya juga, karena guru-guru di SMAN anakku semuanya enjoy dan anak-anakku didiknya enjoy. Jadi guru aktif, anak aktif, dan orang tua aktif,” tambah Rini, orang tua siswa yang anaknya bersekolah di SMA N 2 Bogor, salah satu sekolah rintisan K13 dari 6.221 sekolah. 
Sumber: http://news.metrotvnews.com/read/2014/12/23/335791/penilaian-rapor-sulit-guru-harus-diberi-pelatihan-khusus

Ada pertanyaan atau komentar?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: